Literasi Hukum - Artikel ini membahas fenomena "Pilkada Core" di media sosial yang menampilkan momen lucu dan kontroversial para calon kepala daerah saat debat. Artikel ini menganalisis dampaknya terhadap etika politik, elektabilitas, dan kepercayaan publik, serta menyoroti potensi pelanggaran privasi dan pencemaran nama baik.

Pilkada Core

Memasuki perhelatan Pilkada serentak 2024, publik nampaknya dibuat gumoh bahkan heran oleh kelakuan para calon-calon pemimpin daerah. Putra-putri daerah yang digadang akan membawa perubahan, kemajuan, dan tagline lainnya, kini justru terbawa arus oleh fenomena “Pilkada Core”. Suatu fenomena yang menampilkan kompilasi momen-momen lucu bahkan kontroversial dalam forum terbuka atau debat calon kepala daerah.

dan yang ketiga, saya akan membuat produk baru seperti brambang (bawang merah), kita buat brambang goreng dan sebagainya. Beras akan kita buat menjadi e.. padi akan kita buat menjadi beras. Saya kira itu,“ ucap Ita calon Bupati Nganjuk nomor urut 2 pada forum debat Bupati Nganjuk.[1]

nomor dua adalah kombinasi dari dua generasi, generasi milenial dan generasi kolonial, ucap Dirham Aksara calon Wakil bupati Lamongan nomor urut 2 dalam forum Pengundian Nomor Urut Calon Bupati dan Wakil Bupati Lamongan[2]

“karena kami kesatuan calon Bupati dan Wakil Bupati, maka saya akan memanggil pasangan saya,” ujar Farida Calon Wakil Bupati Bojonegoro nomor urut 1 (satu).

Dilanjutkan dengan, “Apakah salah saya berdiri disini..

“Peraturan mana yang saya langgar, peraturan mana yang saya langgar,” ucap Calon Bupati Bojonegoro saat debat calon wakil bupati Bojonegoro[3]

Diatas adalah sedikit cuplikan dari beberapa momen yang menyebar di media sosial dengan tajuk “Pilkada Core”. Penggunaan frasa core di media sosial telah menjamur dalam beberapa waktu terakhir. Menurut Oxford Dictionary, core adalah bagian paling penting atau sentral dari suatu hal[4].  Core dapat juga dimaknai sebagai bagian utama dari suatu benda.

Namun apabila kita melihat dalam penggunaannya di media sosial, telah terjadi penyimpangan makna. Alih-alih menjadi bagian inti suatu hal (dalam ini muatan dalam konten), core justru merujuk pada kumpulan konten yang menampilkan suatu sifat atau karakter, seperti kelucuan, keindahan, dll. Penggunaan kata 'core' yang sedang tren seringkali melekat pada berbagai isu kontemporer, termasuk Pilkada. Fenomena Pilkada Core menjadi viral di media sosial, terutama bertepatan dengan momen-momen debat calon kepala daerah. Karakteristik konten Pilkada Core didominasi oleh eksposur kelemahan para kandidat, mulai dari ketidaksiapan, kurangnya pemahaman, hingga berbagai kejanggalan yang tampak selama debat. Konten semacam ini juga sering menampilkan sisi buruk kandidat dalam forum publik. Berikut adalah beberapa poin analisis penulis terkait fenomena Pilkada Core: