Literasi Hukum - Rabu di Jakarta itu semacam level “nanggung” yang sengaja dipasang Tuhan untuk mengetes kesabaran umat manusia. Bukan Senin yang masih bisa kita bohongi dengan semangat palsu, bukan Jumat yang bisa kita pacari dengan harapan akhir pekan. Rabu itu hari ketika energi tinggal separuh, dompet mulai menipis karena jajan “self reward” yang kebablasan, dan deadline menumpuk setinggi rasa bersalah pada diri sendiri.
Dan seperti biasa, semesta merasa hidup kita masih terlalu mudah.
Pagi itu turun hujan tipe paling menyebalkan: gerimis rintik-rintik yang awet. Bukan hujan deras yang memaksa kita berteduh dan pasrah. Ini hujan yang datang halus, sopan, tapi jahatnya pelan-pelan. Dia tidak menggebuk, dia merembes. Sepuluh menit berdiri di pinggir jalan nunggu jemputan, kita baru sadar: “Oh, ternyata ini bukan gerimis. Ini metode penyiksaan.”
Dalam kondisi basah nanggung—kemeja lengket, jaket dingin, hidup makin susah—aplikasi ojol jadi semacam doa yang bisa dipesan lewat ponsel. Jempol saya menari. Saya berharap dapat driver dengan motor matic yang joknya lebar, empuk, dan kalau bisa punya aura “sofa berjalan”.
Tentu saja harapan itu adalah kesombongan.
Dari kejauhan muncul suara knalpot yang bukan sekadar suara: itu pengumuman perang. Motor sport mendekat, raungannya memecah konsentrasi orang sekecamatan. Begitu berhenti tepat di depan saya, saya melakukan…
Tulis komentar