Dirty Vote dalam Perspektif Bivitri Susanti
Setelah membahas mengenai kecurangan yang terjadi di level bawah, Bivitri Susanti dalam film Dirty Vote mulai mengungkap berbagai kecurangan yang terjadi di kalangan pejabat negara. Masih terkait bansos, Bivitri menyajikan data yang menunjukkan alokasi dana untuk bantuan sosial dari tahun 2014-2024. Data tersebut menunjukkan bahwa pemberian bansos melonjak naik pada setiap tahun pemilu.
Tidak hanya itu, pemerintah juga mengeluarkan kebijakan populis lainnya, seperti kenaikan gaji PNS, TNI, Polri, dan PPPK sebesar 8% serta kenaikan gaji pensiunan PNS sebesar 12%.
Hal ini memicu pertanyaan bahwa apakah kebijakan tersebut bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan atau sebatas populisme belaka. Karena ternyata, upah buruh hanya mendapat kenaikan sebesar 3,2-4,4%.
Dalam kesempatan tersebut, Bivitri turut mengajak masyarakat untuk mengingat kembali terkait kesejahteraan rakyat dan hakikat pemberian bantuan sosial.
"Bantuan sosial atau bansos bukanlah bantuan politik dan pejabat. Bantuan sosial itu sebenarnya adalah cara untuk secara cepat melaksanakan amanah Pancasila sila ke-5 soal keadilan sosial," terang Bivitri.
Kemudian, ia juga menegaskan bahwa bantuan sosial merupakan implementasi dari Pasal 34 Undang-Undang Dasar Republik Indonesia Tahun 1945, yang berbunyi:
"Fakir Miskin dan Anak-anak terlantar dipelihara oleh Negara"
Namun, pada kenyataannya, bansos masih sering dijadikan sebagai alat untuk berpolitik. Melalui film Dirty Vote, Bivitri menjelaskan salah satu konsep dalam ilmu politik yang disebut "Gentong Babi" atau "Pork Barrel". Istilah tersebut mengacu pada masa perbudakan di Amerika Serikat yang membuat para budak harus berebut babi yang diawetkan dalam gentong.
Konsep tersebut bermakna bahwa "Gentong Babi" adalah cara berpolitik yang menggunakan uang negara untuk digelontorkan ke daerah-daerah pemilihan oleh para politisi agar dirinya bisa dipilih kembali.
Dirty Vote dalam Perspektif Tiga Ahli Hukum Tata Negara
Setelah mengungkap dengan detail persoalan terkait bantuan sosial dan penyalahgunaan wewenang kepala daerah, tiga ahli hukum tata negara ini turut membahas mengenai puncak dari kecurangan pemilu 2024, yakni permasalahan yang terjadi dalam Mahkamah Konstitusi.
Dimulai dari partai PSI yang semula mencalonkan Gibran sebagai presiden, pada tanggal 9 Maret 2023 mengajukan permohonan pengujian Undang-Undang Pemilu Pasal 169 haruf q yang mengatur batas usia calon presiden dan wakil presiden yang semula 40 tahun menjadi 35 tahun.
Dalam hal ini, Feri Amsari menegaskan pada masyarakat untuk patut diingat bahwa ketua Mahkamah Konstitusi (MK) adalah paman dari Gibran itu sendiri.
Polemik selanjutnya yang dibahas dalam film Dirty Vote yakni tentang putusan Mahkamah Konstitusi nomor 90/PUU-XXI/2023 yang ternyata meloloskan Gibran yang pada saat ini masih berusia 36 tahun sebagai calon wakil presiden 2024 bersama Prabowo Subianto.
Sebagai penutup film Dirty Vote, ketiga ahli hukum tata negara memberikan closing statement yang berhubungan dengan kecurangan pemilu 2024.
"Semua rencana ini tidak didesain dalam semalam juga tidak didesain sendirian. Sebagian besar rencana kecurangan yang terstruktur, sistematis, dan masif untuk mengakali pemilu ini sebenarnya disusun bersama dengan pihak-pihak lain. Mereka adalah kekuatan yang selama 10 tahun terakhir berkuasa bersama," tutur Feri Amsari.
"Persaingan politik dan perebutan kekuasaan, desain kecurangan yang sudah disusun bareng-bareng ini, akhirnya jatuh ke tangan satu pihak, yakni pihak yang sedang memegang kunci kekuasaan di mana ia dapat menggerakkan aparatur dan anggaran," sambung Zainal Arifin.
"Tapi sebenarnya ini bukan desain atau rencana yang hebat-hebat amat. Skenario seperti ini dilakukan oleh rezim-rezim sebelumnya di banyak negara dan sepanjang sejarah. Karena itu, untuk menyusun dan menjalankan skenario kotor seperti ini, tak perlu kepintaran atau kecerdasan, yang diperlukan cuma dua: mental culas dan tahan malu," pungkas Bivitri.
Hingga saat ini, tepatnya 13 jam setelah dokumenter itu diunggah, film Dirty Vote telah ditonton oleh lebih dari 2 juta orang dan jumlah komentar mencapai hampir 17.000 orang.
Tulis komentar