Literasi Hukum - Kejahatan child grooming kini sedang hangat diperbincangkan setelah Aurelie Moeremans menerbitkan buku berjudul "Broken Strings" yang berisi kisah nyata dalam hidupnya mengenai trauma tentang kejahatan seksual. 

Pengertian child grooming tidak sesempit pemerkosaan terhadap anak di bawah umur. Maka dari itu kita mulai dengan pembahasan "child grooming itu apasih?"

Child grooming adalah bentuk manipulasi psikologis terhadap anak di bawah umur dan biasanya bertujuan untuk kepuasan pribadi pelaku. Kenapa pelaku memilih anak di bawah umur? Banyak kemungkinan yang terjadi. Salah satunya karena anak di bawah umur sangat mudah dikendalikan pikirannya. Apabila terjadi suatu insiden buruk, yang disalahkan pertama biasanya adalah korban. Sulit untuk ditindaklanjuti karena masyarakat menganggap ini terjadi atas dasar "suka sama suka". Miris ya?

Acuhnya masyarakat membuat para pelaku berkeliaran dimana-mana tanpa rasa takut. Pola nya selalu klasik. Merayu untuk foto/video tidak senonoh, lantas mengancam korban dengan dokumentasi yang ia miliki jika korban memilih mengakhiri hubungan. Hal seperti ini terjadi terus menerus sampai pelaku puas melihat korbannya hancur dan tersingkir dari keluarganya sendiri. Disini, peran kita dipertanyakan. "kenapa kita memilih memarahi dan menghukum sang anak daripada memahami akar masalahnya?"

Advertisement
Baca tanpa iklan.
Gabung Membership

Kebanyakan korban child grooming berasal dari lingkungannya yang selalu acuh. Tidak adanya kepedulian dari orang dewasa di sekitarnya membuat dia meminta perhatian dari luar tanpa tau apa itu kasih sayang yang benar. Mereka tidak pernah tau apa itu cinta yang tulus, atau apa itu kepedulian yang tulus. 

Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mencatat bahwa ada 2.031 kasus child grooming sepanjang tahun 2025 dan jumlah korbannya mencapai 2.063 jiwa. Bukan hanya lembaga negara yang harus menangani, tapi orang dewasa di sekitar juga diperlukan partisipasinya dalam mencegah kasus child grooming.

Advertisement
Baca tanpa iklan.
Gabung Membership

Peran dan kehadiran orang tua sangat penting untuk tumbuh kembang anak. Yang mereka butuhkan adalah kehadiran fisik dan batin orang tuanya, bukan hanya sekedar kehadiran hartanya. Sempatkan untuk mengawasi anak dalam penggunaan sosial media. Ajarkan anak untuk selalu bersikap terbuka dan berani jujur. Tidak menghakimi anak ketika dia berkata jujur adalah langkah awal membuka kepercayaan anak terhadap orang tua. 

Kita benar-benar harus mengawasi anak sebelum kita kehilangan senyumannya yang ceria.