Literasi Hukum - Sebagai manusia yang pernah (atau sedang) mewakafkan sisa kewarasan untuk menimba ilmu di fakultas hukum, ada satu kutukan abadi yang menempel pada ijazah kami setara dengan tinta stempel basah rektorat: dianggap sebagai Google berjalan oleh keluarga besar, tetangga, hingga teman SD yang sudah sepuluh tahun lost contact.

Fenomena ini biasanya terjadi di momen-momen sakral yang seharusnya penuh kehangatan, seperti arisan keluarga, reuni SMA, atau sekadar nongkrong di pos ronda. Saat lulusan Ekonomi ditanya "investasi apa yang bagus tahun ini?" atau lulusan Teknik ditanya "kenapa AC rumah nggak dingin?", kami para sarjana hukum akan mendapatkan pertanyaan yang bobotnya setara ujian komprehensif, tapi diharapkan dijawab dalam durasi Instagram Story.

"Eh, Mas, kalau tanah warisan kakek saya diserobot tetangga yang ternyata sepupu ipar dari istri kedua, tapi sertifikatnya masih Letter C dan belum balik nama sejak zaman Belanda, itu kena pasal berapa ya? Bisa dipenjara nggak orangnya?"

Seketika, nastar di toples arisan rasanya sesepet putusan sela yang ditolak hakim.

Mitos Manusia Palugada (Apa Lu Mau Gue Ada)

Ada kesalahpahaman masif dan terstruktur di masyarakat kita bahwa lulusan hukum itu adalah manusia super yang hafal seluruh isi peraturan perundang-undangan di Indonesia. Padahal, mari kita jujur-jujuran saja sambil menatap langit-langit kamar. Jumlah…