Notion dan Template: Ketika Kita Mengira Hidup Bisa Diselesaikan Seperti PowerPoint

Di titik tertentu, to-do list manual terasa kurang meyakinkan. Kita butuh sesuatu yang lebih “profesional”. Masuklah Notion, Trello, Asana, ClickUp, dan seluruh keluarga aplikasi yang namanya terdengar seperti startup yang didanai modal ventura.

Lalu orang-orang mulai mengoleksi template.

Ada template “Second Brain”, ada template “Life OS”, ada template “Personal KPI”, ada template “Weekly Review ala CEO”, bahkan ada yang bikin dashboard hidup lengkap dengan grafik mood harian.

Saya tidak menertawakan. Saya paham godaannya. Melihat dashboard hidup itu memang memuaskan. Rasanya seperti Anda punya kendali. Seperti Anda bisa mengatur semesta. Seperti Tuhan, tapi versi freemium.

Masalahnya: hidup tidak punya tombol “filter” yang rapi.

Di Notion, Anda bisa membuat kategori: kerja, kesehatan, relasi, finansial.
Di dunia nyata, semua kategori itu campur aduk seperti mie instan yang diseduh pakai air panas galau.

Anda bisa menulis “Self-care: 20 menit meditasi.”
Tapi dunia nyata bisa saja membalas dengan: “Self-care: menghadapi tetangga renovasi dari jam 7 pagi.”

Anda bisa mengatur “Deep work 2 jam.”
Tapi dunia nyata bisa saja mengirim paket COD yang isinya Anda lupa pesan apa, lalu Anda harus menjelaskan ke diri sendiri kenapa Anda membeli alat pijat kepala jam 2 pagi minggu lalu.

Hustle Culture Itu Menjual Harapan, Tapi Mengirimkan Kelelahan

Salah satu akar masalahnya adalah: kita hidup di zaman yang memuja kesibukan.

Di kantor, orang bangga bilang “gue sibuk banget.”
Di tongkrongan, orang bangga bilang “gue nggak sempet.”
Di media sosial, orang bangga memamerkan kalender penuh warna seperti pelangi yang gagal bahagia.

Advertisement
Baca tanpa iklan.
Gabung Membership

Kesibukan dijadikan status. Semakin sibuk, semakin dianggap penting. Seakan-akan nilai manusia bisa diukur dari jumlah meeting dan notifikasi.

Padahal, sering kali “sibuk” itu bukan tanda produktif, melainkan tanda tidak punya kuasa atas waktu sendiri.

Kita ini kadang bukan bekerja untuk hidup, tapi hidup untuk bekerja. Kita menyusun hari seperti Tetris: celah sedikit saja langsung panik, padahal Tetris itu game yang ujungnya selalu kalah juga.

Lalu muncul anjuran-anjuran ajaib: “Buat rutinitas pagi.” “Atur prioritas.” “Stop prokrastinasi.”
Seolah-olah masalahnya ada pada karakter kita, bukan pada sistem yang membuat kita harus kerja lebih keras untuk hal-hal yang dulu bisa didapat lebih mudah.

Akhirnya, produktivitas bukan lagi alat untuk memudahkan hidup. Ia berubah menjadi kompetisi tanpa garis finish.

Anda bisa lari cepat, tapi tetap merasa kurang. Karena selalu ada orang yang larinya sambil bikin konten, sambil investasi, sambil membangun startup, sambil menanam hidroponik di balkon apartemen.

Advertisement
Baca tanpa iklan.
Gabung Membership

“Healing” yang Dijadwalkan: Bahkan Istirahat Pun Harus Punya Output

Bagian paling lucu sekaligus paling menyedihkan adalah ketika budaya produktivitas berhasil mengkolonisasi konsep istirahat.

Sekarang, orang liburan bukan untuk istirahat, tapi untuk “healing.”
Dan healing itu bukan sekadar tidur siang atau bengong. Healing harus ada bukti. Minimal story. Kalau bisa, carousel.

Yang lebih parah: healing juga masuk to-do list.

  • Sabtu: healing ke coffee shop
  • Minggu: healing ke alam
  • Senin: kembali kerja dengan versi diri yang lebih segar (katanya)

Akhirnya, istirahat pun terasa seperti proyek. Kalau Anda tidak pulang dari liburan dengan foto bagus dan caption reflektif, Anda merasa liburan Anda gagal.

Padahal, definisi istirahat yang paling jujur kadang sederhana:
tidur tanpa alarm dan bangun tanpa rasa bersalah.

Tapi itu sulit dilakukan ketika di kepala Anda ada notifikasi imajiner: “Anda belum produktif hari ini.”